Manajemen K3Safety

Efektifitas dua pendekatan (Mandatory Vs Voluntary) penerapan Sistem Manajemen K3

Seperti pada gambar 1 pada tulisan L.S. Robson et al (2007) yang berjudul The Effectiveness of Occupational Health and Safety Management System Interventions: A Systematic Review menyatakan bahwa final outcomes di identifikasi sebagai tujuan dari intervensi SKM3 & Economic Outcomes merupakan akhir dari hasil efektivitas penerapan SMK3.

Sejalan dengan penelitian yang dilakukan dalam beberapa laporan penelitian tersebut, bahwa implementasi SMK3 yang dilakukan dengan pendekatan mandatory atau voluntary memiliki efek terhadap intermediate OHS Outcome, Final Outcomes hingga Economic Outcomes.  Walaupun tidak dijelaskan secara spesifik tingkat efektivitas dari SMK3 terhadap ketiga aspek tersebut, namun dapat disimpulkan.  Semakin baik penerapan implementasi SMK3 di suatu tempat kerja maka secara langsung terjadi perubahan iklim keselamatan yang lebih baik (Intermediate OHS Outcomes).  Semakin baik atau tumbuhnya iklim keselamatan pada pekerja tentunya akan berpengaruh terhadap kesadaran, pengetahuan hingga perubahan perilaku pekerja yang benar-benar paham dengan isu-isu K3.  Hal ini tentu akan membuat injury rate (Final OHS Outcomes) menjadi turun.  Minim bahkan tidak adanya cidera pekerja tentunya membuat tidak ada beban/ cost yang dikeluarkan oleh organisasi untuk melakukan penanganan terhadap pekerja yang cidera atau premi asuransi (Economic Outcomes).

Pada voluntary intervention, ada beberapa penelitian yang menyatakan terdapat temuan positive terhadap beberapa aspek tersebut misalnya saja peningkatan penerapan SMK3 dari waktu ke waktu.  Selain itu, efek intermediate misalnya iklim keselamatan yang lebih baik, peningkatan laporan bahaya oleh karyawan, dan tindakan-tindakan lainnya yang menjadi lebih baik.  Bukan hanya itu, dari voluntary intervention ini berimbas pada penurunan injury rates dan juga penurunan kecacatan terkait pembiayaan kompensasi pekerja baik jangka pendek maupun panjang.  Salah satu yang mengalami perbaikan adalah dengan penurunan frekuensi kecelakaan hingga 24% dari sebelumnya ada di angka 34% (Bunn et al., 2001 dalam Robson et al., 2006) setiap pekerjanya (final OHS outcomes)Selain itu laporan lainnya mengatakan bahwa terjadi penurunan premi 13-52% yang merupakan economic outcomes (Alsop & LeCouteur, 1999 dalam Robson et al., 2006).   Namun perlu dicatat, hasil penelitian itu dengan kondisi metodologi yang terbatas pada kategori moderate.

Pada mandatory intervention penelitian tersebut menyatakan bahwa hal tersebut dapat meningkatkan penerapan sistem manajemen K3 dari waktu ke waktu, peningkatan kesadaran terkait dengan K3, meningkatnya persepsi dari pekerja terhadap lingkungan kerja fisik dan psychosocial.  Selain itu partisipasi pekerja dalam kegiatan-kegiatan K3 juga cenderung meningkat, termasuk penurunan lost-time injury rates dan meningkatkan produktivitas dari sebuah organisasi.

Secara umum baik voluntary maupun mandatory intervention memiliki dampak masing-masing dari pelaksanaannya seperti yang terlihat pada tabel 2 terkait dengan summary of the evidence.

Dari 13 penelitian yang dilakukan, ada 7 penelitian yang mengarah kepada voluntary intervention sementara 6 sisanya melakukan penelitian pada pendekatan yang bersifat mandatory intervention.   Dapat kita lihat bahwa baik itu voluntary maupun mandatory memiliki bukti yang cukup akurat bahwa pelaksanaannya secara effective dapat memberikan efek dari intervensi yang dilaksanakan.

Pendekatan penerapan SMK3 yang lebih efektif adalah mandatory intervention, terutama di Indonesia.  Hal ini dikarenakan efek sanksi yang cenderung ditakuti oleh banyak industri atau pelaku usaha jika tidak menjalankannya.  Walaupun berat, mau tidak mau maka akan dijalankan.  Pada awalnya memang akan terasa berat, namun seiring berjalannya waktu hal itu nampaknya akan menjadi sebuah rutin aktivitas/ program yang perlu dilakukan.  Efek dari ketika tidak menjalankannya tentu akan berdampak lebih buruk dan panjang misalnya bagi pelaku usaha.  Misalnya tidak mendapatkan izin operasional, hingga dikenakan sanksi pidana jika tidak menjalankannya.  Hal ini sebenarnya sejalan dengan bagaimana di Norway ketika penerapan SMK3 ini secara mandatory rupanya dampaknya ke peningkatan awareness. Begitu pulan yang terjadi di Kanada, rupanya penerapan SMK3 secara mandatory yang dilakukan di negara tersebut memberikan dampak positif berupa penurunan 18% lost-time injury rate.  Artinya, pendekatan secara mandatory bukanlah sesuatu yang buruk namun juga memiliki dampak positif lainnya.

Berbeda dengan voluntary intervention, dimana akan mungkin dilaksanakan jika manajemen dan pihak-pihak terkait memang memiliki kepedulian yang baik terhadap aspek K3.  Inilah mengapa mandatory intervention akan lebih efektif dibanding dengan voluntary intervention.

Robson et.al. (2007). The effectiveness of occupational health and safety management system interventions: A systematic review. Safety Science. 45. 329-353. 10.1016/j.ssci.2006.07.003.

Show More

Joko Priono, M.K.K.K.

HSE Senior Specialist at Multinational Automotive Company. Master of Occupational Health & Safety- Universitas Indonesia.

Tinggalkan Komentar di sini

Back to top button