Safety

Penerapan Human-Machine Interface (HMI) bagi Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3) di Masa Mendatang

Perkembangan teknologi yang sangat cepat dan canggih diduga akan membawa risiko dan tantangan baru bagi pekerja dan pengusaha.  Dengan kondisi saat ini bahwa banyak pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh manusia sudah digantikan oleh mesin.  Walaupun sebenarnya dalam pengoperasian mesin tersebut masih ada peran manusia didalamnya.  Inilah yang sering disebut HMI (Human-Machine Interface).  Secara mudahnya untuk memahami istilah HMI ini adalah sebuah tampilan/ interface penghubung antara manusia dengan mesin.  Misalnya HMI pada cockpit pesawat terbang.  Ada berbagai macam tombol-tombol atau indicator yang digunakan.  HMI tersebut akan menerjemahkan instruksi pilot ke mesin dan memunculkan tanda peringatan/ informasi kepada pilot terhadap suatu keadaan.

Ilustrasi HMI

Tak banyak yang mengira bahwa HMI ini kerat kaitannya dengan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.  Desain HMI yang tidak memperhitungkan kebutuhan teknis operatornya tentu akan menjadi masalah dikemudian hari.  Operator dipaksa untuk beradaptasi dengan proses yang sudah ditentukan dalam mesin.  Padahal bukankah mesin / design tersebut yang harusnya menyesuaikan kemampuan dari manusianya.  Itulah yang sebenarnya menyebabkan ada kaitannya ilmu ergonomic, human factors, limitasi seseorang dan anatomi dalam penerapan HMI.  Buruknya desain HMI akan menyebabkan operator menafsirkan decision yang salah sehingga dapat menimbulkan perintah kerja yang salah.  Namun memang, HMI erat kaitannya dengan factor risiko ergonomic dan psikososial. Kondisi Desain HMI yang buruk tentunya akan membuat operator menjadi tidak nyaman dalam bekerja, baik dari segi ruang gerak, emosional dan factor lainnya.

Berikut ini adalah beberapa risiko yang mungkin akan hadir dimasa ini dan masa mendatang dengan perkembangan Human-Machine Interface (HMI).

Beban Kerja dan Stress

Dengan adanya otomatisasi tentu jumlah operator juga dapat berkurang.  Kondisi para operator yang berada di ruang control akan membuat mereka semakin terisolasi dan terbatas untuk melakukan komunikasi dengan bantuan teknologi.  Cara kerja diorganisasi tentu juga berubah, kerja tim mungkin akan hilang dan operator semakin harus menjadi ahli diberbagai bidang dan memikul lebih banyak tanggung jawab.  Artinya variasi tugas juga meningkat diiringi dengan meningkatnya beban kerja mental juga.

Beberapa tutuntan di tempat kerja diduga dapat memicu terjadinya Musculoscelatal Symptoms (MSS). Tuntuntan kerja yang dimaksud berkaitan dengan tekanan waktu, kecepakan kerja, istirahat, beban kerja atau lonjakan pekerjaan (CCOHS, 2017).

Human Error

HMI secara signifikan meningkatkan kemungkinan kesalahan manusia, yang dapat dengan mudah mengakibatkan kecelakaan kerja. Jauh lebih kecil kemungkinannya untuk terjadi, tetapi dengan konsekuensi yang jauh lebih buruk, kesalahan manusia juga dapat mengakibatkan kecelakaan besar atau bahkan bencana.  Human error ini dapat terjadi karena beberapa hal seperti kompleksitas pekerjaan, Desain tempat kerja yang tidak memadai, desain HMI yang tidak memadai, efek Lingkungan yang buruk, kurangnya pembelajaran dan alat bantu kerja serta instruksi Keselamatan yang tidak memadai.  Selain itu factor individu juga dapat berpengaruh, seperti usia, jenis kelamin, kecerdasan, kemampuan persepsi, keadaan fisik, kesabaran, pengalaman, pengetahuan, motivasi, emosi, dan stres.

Sejak awal munculnya mouse & keyboard kemudian terus berkembang hingga muncul berbagai macam tools-tools. Bahkan potensi kesalahan ini tetap ada. Sekarang, segalanya mungkin bisa saja dengan instruksi suara yang kita sampaikan ke mesin. Kesalahan-kesalahan dalam menerima instruksi suara tentunya akan berdampak fatal. Terlebih lagi dimasa mendatang, semua pesan nampaknya sudah tidak pakai suara jadi mungkin langsung dari brain operator.

Perkembangan Konsep HMI dari Tahun ke Tahun

Keluhan Musculoskeletal

Masalah lain dimasa ini dan mendatang misalnya masalah psikososial dan musculoskeletal yang disebabkan oleh berkurangnya aktivitas fisik, postur yang lebih statis, dan beban kerja mental yang lebih tinggi (mis. Saat memantau dan mengendalikan); lebih sedikit privasi di tempat kerja (karena teknologi memungkinkan pengawasan yang lebih dekat); dan lebih banyak masalah pengambilan keputusan.  Sistem control yang rumit untuk dioperasikan dapat mengubah metode kerja sehingga tuntutan meningkat, tekanan terhadap waktu dan kecepatan kerja.

HMI yang dibahas diatas pun sebenarnya sudah ada sejak dahulu.  Sehingga tentunya para safety professional harus terus mengupgrade ilmunya terkait dengan kondisi kekinian dalam bidang K3.  Sekarang kita dapat melihat di HIRADC kita masing-masing, sudah sejauh mana kita melakukan identifikasi bahaya dan penilaian risiko yang berkaitan dengan hal tersebut diatas.  Contoh sederhananya terkait dengan risiko ergonomic dan psikososial yang diperkirakaan akan banyak dijumpai dimasa ini dan mendatang.  Di Permenaker 05 tahun 2018 pun aspek ergonomic dan psikososial sudah dibahas.  Bahkan untuk aspek ergonomic sendiri pembahasan sangat mandalam.  Nah silahkan didiskusikan apakah safety professional perlu mendalami ilmu psikologi yang kalau dilihat risiko-risiko ini mulai menjadi perhatian.

Jika melihat kondisi diatas pun, perlu penelitian yang lebih mendalam untuk melihat cara kerja HMI terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pekerja, cognitive ergonomi serta bagaimana perilaku operator saat situasi abnormal tentunya akan berbeda dengan kondisi normal dan banyak hal lainnya yang memang perlu digali lagi.

Referensi

  • Eva, F., Angelika, H., Literature Review: The human machine interface as an emerging risk. European Agency for Safety and Health at Work
  • CCOHS, (2017). Musculoskeletal disorders – psychosocial factors: OSH answers.

Show More

Joko Priono, M.K.K.K.

HSE Senior Specialist di PT. Hyundai Motor Manufacturing Indonesia. Magister Keselamatan & Kesehatan Kerja Universitas Indonesia

One Comment

Tinggalkan Komentar di sini

Back to top button
Close
Close