FireSafety

Beberapa Penelitian terkait Penanganan Kebakaran pada Kendaraan Listrik

Pernahkah kita mengingat disaat masyarakat Indonesia beralih dari kompor minyak tanah ke kompor gas LPG? Pada masa itu, tidak sedikit kekhawatiran yang muncul. Isu kebocoran gas, ledakan tabung, dan berbagai kekhawatiran lainnya. Banyak keluarga merasa ragu, bahkan takut untuk beralih dari teknologi yang sudah mereka kenal selama puluhan tahun.

Seiring waktu yang terus berlalu dan teknologi berkembang. Standar keamanan pun diperkuat,  edukasi semakin massif dan hari ini, sepertinya kompor gas bukan lagi sesuatu yang ditakuti, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Walaupun, masih ditemukan beberapa case yang terjadi terkait dengan ledakan tabung gas. Tapi penggunaan bahan bakar gas nampaknya sudah didedepan mata.

Kini, Indonesia kembali berada dalam fase transisi energi berikutnya.

Pemerintah mendorong penggunaan kendaraan listrik sebagai solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan menjawab tantangan krisis energi (kasus perang yang terjadi akhir-akhir ini). Namun, seperti halnya transisi sebelumnya, perubahan ini juga memunculkan kekhawatiran baru, terutama terkait keselamatan.

Kebakaran kendaraan listrik, yang sering dikaitkan dengan fenomena Thermal Runaway pada baterai lithium-ion, menjadi salah satu isu yang banyak diperbincangkan. Berbeda dengan kebakaran kendaraan konvensional, kebakaran pada kendaraan listrik memiliki karakteristik yang lebih kompleks, sulit dipadamkan, dan berpotensi menyala kembali.

Jika kita belajar dari sejarah, pertanyaan tersebut bukanlah hal baru.

Setiap transisi energi selalu membawa perubahan, bukan hanya dalam teknologi, tetapi juga dalam profil risiko. Peralihan dari minyak tanah ke LPG tidak menghilangkan risiko, melainkan mengubahnya. Begitu pula dengan peralihan dari kendaraan berbahan bakar bensin ke kendaraan listrik.  Perubahan menuju kendaraan listrik bukan sekadar mengganti sumber energi, tetapi juga mengubah cara kita memahami dan mengelola risiko.

Jika sebelumnya risiko utama pada kendaraan konvensional adalah bahan bakar yang mudah terbakar, maka pada kendaraan listrik risiko tersebut bergeser menjadi pengelolaan energi dalam baterai. Artinya, fokus keselamatan tidak lagi hanya pada api yang terlihat, tetapi juga pada energi panas yang tersimpan dan dapat dilepaskan sewaktu-waktu.

Sebenarnya saya ingin menganalogikan antara pesawat vs mobil.  Ya, dampak kecelakaan pesawat sangatlah tinggi, namun secara frekuensi kejadian lebih rendah dibanding dengan mobil.  Ini juga nampaknya berlaku dengan mobil konvensional vs mobil Listrik.  Namun sayangnya frekuensi rate ini belum bisa ditunjukkan. Dibeberapa seminar/ diskusi pertanyaan terkait tata cara pemadaman kendaraan Listrik adalah terkait dengan bagaimana cara memadamkan mobil Listrik yang terbakar? 

Akhir-akhir ini sudah banyak penelitian yang menunjukkan hasil positif terkait penanganan kendaraan Listrik yang terbakar. 

Secara umum, literatur terbaru menunjukkan pola yang cukup konsisten: kebakaran EV berbeda dari kendaraan BBM karena masalah utamanya adalah thermal runaway pada baterai. Karena itu, penelitian lebih banyak menilai pendinginan intensif, akses langsung ke battery pack, water mist/Ultra High Pressure (UHP), monitoring pasca-padam, dan pengendalian re-ignition, bukan sekadar “mematikan api permukaan. (Shen et al. (2024), SAE – Fire Safety of Battery Electric Vehicles: Hazard Identification, Quantification, and Mitigation Strategies).

Ada juga penelitian dengan pengujian skala penuh oleh Olona et al (2025) yang berjudul Full-Scale Experimental Analysis of the Behavior of Electric Vehicle Fires and the Effectiveness of Extinguishing Methods.  Penelitian ini secara eksplisit menyebut tujuannya untuk mengevaluasi response strategies terhadap kebakaran EV akibat thermal runaway.  Pada penelitiannya Olona menampilkan temperatur EV yang terbakar dari waktu ke waktu dan ketika diberikan treatment berupa fire blanket. Penelitian Olona et al. (2025) menunjukkan bahwa fire blanket efektif dalam memadamkan nyala api dengan cara memutus suplai oksigen, namun tidak menghentikan thermal runaway di dalam baterai. Untuk mengendalikan sumber panas tersebut, diperlukan pendinginan menggunakan air dalam jumlah besar, meskipun metode ini tidak selalu menjamin pencegahan re-ignition.

Olona et al (2025)
Olona et al (2025)

Namun ada yang sedikit berbeda yang dilakukan pada Penelitian Mammacıoğlu & Coşkun (2025) yang berjudul A New Experimental approach to lithium-ion battery fires in electric vehicles: Investigation of fire behavior and effectivenes of extinguishing agents menunjukkan bahwa efektivitas agen pemadam kebakaran baterai lithium-ion sangat bergantung pada kondisi termal yang terjadi. Meskipun beberapa agen seperti BIOVERSAL dan COG menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan air dalam kondisi tertentu, tidak ada satu pun agen yang mampu menghentikan thermal runaway secara langsung. Hal ini menegaskan bahwa strategi pemadaman kebakaran kendaraan listrik tidak dapat bergantung pada satu jenis media pemadam saja, melainkan harus mempertimbangkan kondisi panas dan mekanisme reaksi di dalam baterai. Namun memang ada kelemahan dalam penelitian ini, yaitu skala penelitian pada battery cell saja tidak full vehicle terlebih di laboratorium tidak ada faktor angin dll.

Pada penelitian lainnya menyatakan terkait dengan metode pemadaman dengan kabut air. Meskipun kabut air dapat mendinginkan baterai (Xu,et all 2020), namun tidak cocok untuk memadamkan kebakaran EV, karena tetesan air tidak mencapai bagian dalam baterai (Yan, et all 2021).

Pada tahun 2024 Division responsible for the report: Fire, Dispersion and Explosion Department yang ditulis oleh LECOCQ Amandine – BORDES ARNAUD juga men-summary beberapa hasil seperti dibawah ini:

Kesulitan memadamkan api yang ditimbulkan oleh kendaraan listrik dan risiko re-ignition yang tinggi menyebabkan beberapa di beberapa case memilih untuk menggunakan sistem perendaman ketika baterai mengalami proses TR, atau setelah api yang terlihat telah padam tetapi dengan risiko re-ignition yang tinggi (suhu baterai tinggi yang dipantau oleh kamera termal). Solusi ini memungkinkan untuk merendam seluruh atau sebagian kendaraan seperti pada gambar berikut.

Dari beberapa penelitian dan sumber referensi lainnya (20 penelitian) terkait dengan penanganan kendaraan pada EV atau Lithium Ion Batteries (Lib). Pendinginan baterai menjadi strategi utama dalam mengendalikan kebakaran, sementara metode lain hanya berfungsi sebagai pendukung. Hingga saat ini, belum terdapat metode yang mampu menghentikan thermal runaway secara instan, sehingga penanganan kebakaran EV lebih berfokus pada pengendalian energi, pencegahan propagasi, serta monitoring pasca kejadian.

Perkembangan kendaraan listrik seringkali diiringi dengan berbagai kekhawatiran, khususnya terkait isu keselamatan seperti kebakaran baterai. Hal ini sebenarnya bukan fenomena baru. Dalam setiap transisi teknologi, selalu muncul fase ketidakpastian sebelum akhirnya teknologi tersebut dipahami dan diterima secara luas. Seperti halnya peralihan dari kompor minyak tanah ke LPG di masa lalu, kekhawatiran terhadap risiko kebocoran dan ledakan sempat menjadi isu besar di masyarakat. Namun, seiring waktu, melalui peningkatan teknologi, standar keamanan, serta edukasi yang tepat, risiko tersebut dapat dikelola hingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.


Discover more from HSEpedia

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

🚧 Butuh materi HSE/K3L yang lengkap dan siap pakai? Kini Anda bisa mendapatkan ratusan dokumen berkualitas yang mencakup Checklist K3, Job Safety Analysis (JSA), Regulasi K3L, Poster Keselamatan, SOP, Panduan Ergonomi, dan masih banyak lagi! 🔗Mau? Klik link ini https://lynk.id/hsepedia

Joko Priono, M.K.K.K.

More than 10 years experiences as HSE at Multinational Automotive Company. Bachelor Degree of Environmental Health and Master Degree of Occupational Health & Safety - Universitas Indonesia. Author of "70 Materi Safety Talks and Acuan Implementasi SMK3"
Back to top button