Dokumentasi

Pengabdian Masyarakat: Perjalanan yang Tak Terbatas

Pengabdian masyarakat adalah ketika kita mendedikasikan tenaga kita, pikiran kita, dan materi kita untuk kepentingan masyarakat; kaum marjinal. Adalah ketika kita berinteraksi langsung mendengarkan keluh kesah mereka, berperan sebagai teman mereka, sekaligus orang yang dapat mereka gantungkan banyak harapan. Pengalaman tersebut terasa benar menghiasi memori saya dalam Bakti Sosial Pasca OKK (BAKPAO) FKM UI 2015. Sedikit penjelasan tentang BAKPAO, acara ini merupakan kegiatan bakti sosial dan edukasi kesehatan yang diadakan sebagai wadah mahasiswa baru FKM UI 2015 merasakan langsung berinteraksi dengan masyarakat dan menggali rasa kepedulian mereka; dalam kondisi senang atau sulit. Iya, sekali lagi: dalam kondisi senang atau sulit.

Menjadi Project Officer BAKPAO 2015 adalah sebuah anugerah berikut kengerian yang saya rasakan. Ngeri tidak bisa menanamkan nilai-nilai yang dituju kepada mahasiswa baru; ngeri tidak mudah diterima masyarakat; ngeri tidak bisa menjadi sebermanfaat itu dengan segala keterbatasan yang ada. Berbicara tentang keterbatasan, sempat ada ketakutan dari diri saya dan juga teman-teman panitia. Apakah dengan keterbatasan waktu, biaya, dan sumber daya lainnya, kita dapat memenuhi harapan warga? Kita hanya mahasiswa. Uang jajan juga masih dari orangtua. Makan tiap harinya aja masih ngirit, mengharapkan gratisan bahkan. Sering saya berandai-andai, “Coba kalau duit saya lebih, saya tambahin deh.” Ternyata mudah bagi kita mencari alasan untuk tidak melakukan kebaikan.

Namun, semua itu berubah semenjak saya mengenal Pak Akay, penjaga sekolah SDN 02 Sukasari, Kabupaten Bogor. Sekolah yang dijaga Pak Akay adalah salah satu sekolah yang menjadi lokasi BAKPAO 2015. Dari awal pencarian lokasi hingga hari H BAKPAO, Pak Akay senantiasa membantu kami. Kami cukup heran, apa Bapak ini akan meminta imbalan? Karena kami (pikir) tidak punya apapun untuk diberikan. Bukankah Bapak ini hanya seorang penjaga sekolah? Sekolahnya di desa loh, bukan kota. Namun lewat interaksi saya dengan panitia yang semakin intens dengan Pak Akay, semua terjawab. Kita memang tidak pernah dapat menduga kapan bertemu dengan sosok inspiratif.

Pak Akay hanya seorang lulusan SD, penjaga sekolah, kerja serabutan untuk menambah pemasukan, dan seorang ayah dari 4 anak dimana 2 diantaranya sudah sarjana. Kadang menjadi pengupas kelapa, kadang menjadi tukang ojek, kadang menjaga warung. Tapi ia juga seorang ketua RT selama 13 tahun, seorang yang dikenal baik oleh masyarakat, dan bahkan di kondisi ekonominya yang sulit ia mengangkat seorang anak. Semua ia lakukan demi kepuasan semata; kepuasan karena telah melakukan kebaikan dalam kondisi keterbatasan.

Sejak saat itu saya bertekad: kisah ini tidak boleh berhenti di saya, dunia perlu tau. Saya pun mewawancarai Pak Akay. Dan jawaban yang paling menohok adalah ketika saya bertanya, “Mengapa Bapak tetap berusaha berbuat baik kepada orang lain? Padahal Bapak dalam kondisi sulit juga.” Ia dengan logat sundanya menjawab, “Ya walaupun saya kondisinya seperti ini tapi saya tetap bantu orang lain, sebagai rasa syukur saha. Bersyukur aja intinya.” Jleb. Bersyukur? Jujur, saya malu. Sebagai lulusan SMA dan sedang mengenyam bangku kuliah saja masih berpikir beribu-ribu kali untuk membantu orang lain. Seorang ketua pelaksana bakti sosialpun masih berpikir segala sesuatunya dalam keterbatasan.

Dan benar apa yang dikatakan Pak Akay: membantu orang lain memberikan kesenangan bagi diri sendiri. Sesederhana mengajarkan anak SD untuk cuci tangan, ternyata kita bisa menjadi luar biasa; membuat Pak Akay bercerita, “Iya neng, pagi-pagi mereka sudah langsung cuci tangan. Jadi rajin!” Sesederhana mengajarkan anak SD gosok gigi ternyata mampu membuat mereka bertanya kepada Pak Akay, “Pak, kapan mahasiswa itu datang lagi?” Sebuah respons di luar dugaan yang cukup membuat panitia yang mendengar merinding bahkan bercucuran air mata. Dan rasa puasnya tak terbatas.

Memang sesederhana itu intervensi yang kita lakukan, tapi jangan sepelekan dampaknya. Berdasarkan hasil pre-test imtervensi, banyak anak SD tersebut bahkan tidak tahu kapan saja harus mencuci tangan mereka. Jangankan untuk cuci tangan, menggunakan alas kaki saja mereka tidak menganggap sebagai hal yang penting. Bagaimana dengan buang air? Memang tidak ada data berapa persen yang buang air di jamban, tapi melihat kondisi toilet sekolah mereka sudah sangat tidak layak, dapat disimpulkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di desa ini belumlah menjadi budaya. Egois rasanya jika saya menuntut mereka untuk dapat menerapkan PHBS disaat bahkan keran cuci tangan pun mereka tak punya! Dan akan lebih egois jika saya menuntut pembangunan keran cuci tangan, disaat atap sekolah mereka pun tak sempurna.

Miris melihat kondisi yang ada. Tak perlu jauh ke pelosok, karena sudah ada “yang pelosok” di dekat kita. Desa Sukasari, Kabupaten Bogor tepatnya, hanya dua jam perjalanan dari UI depok, dan satu stasiun kereta dari statsiun Serpong. Sumber daya alam mereka diraup; gunung-gunung dikeruk; batu-batu dipecah; warga diperbudak. Bukan hanya pemerintah yang menutup mata dengan kondisi mereka, tapi kita juga. Jalanan hancur karena terlalu sering dilewati oleh truk-truk besar. Truk raksasa yang kapanpun dapat melindas warga ketika pengemudinya mengantuk atau ugal-ugalan. Jangankan untuk hidup sehat, hidup selamat pun sulit bagi mereka. Belum banyak orang yang tersentuh hatinya untuk mengadvokasi kesejahteraan warga Desa Sukasari. Belum banyak mahasiswa yang datang mengadakan bakti sosial, paling-paling hanya datang sekedar memenuhi kuliah kerja nyata. Tapi untuk kesehatan dan keselamatan mereka? Bahkan untuk memikirkannya saja untuk mereka, belum ada yang berani melakukan. Atau tidak mau?

Berkunjung ke Desa Sukasari membuat mata saya terbuka. Bahwa “yang miris” ada di dekat kita dan “yang sederhana” ternyata bisa membantu mereka. Bahwa adanya pengabdian masyarakat adalah karena keterbatasan-keterbatasan mereka; ekonomi, pendidikan, kesehatan, pembangunan. Dan keterbatasan itu butuh hati yang tak terbatas untuk menolongnya. Hal sekecil apapun yang kita niatkan untuk mereka, dampaknya tak akan pernah bisa kita duga. Benar jika pengabdian masyarakat adalah perjalanan menuju tak terbatas yang melawan setiap keterbatasan. Harus disadari bahwa bergerak untuk orang lain bukanlah “Sanggup gak?” tapi “Mau gak?”, bagaimana kita melampaui segala batas kekhawatiran untuk kemudian bisa membuat orang lain melawan batasan-batasan nasib yang mengekangnya. Melalui perjuangan melawan keterbatasan, dunia dan seisinya setuju untuk memberi kita imbalan yang tak terbatas. Mengutip film animasi Toy Story, “to infinity and beyond”. Gerakan ini adalah perjalan menuju tak terbatas dan melampauinya!

Gita Kartika Ramadhani

Mahasiswi Program Studi Gizi FKM UI 2014, Staff Departemen Sosmas BEM IM FKM UI 2015

Show More

Joko Priono, M.K.K.K.

HSE Senior Specialist at Multinational Automotive Company. Master of Occupational Health & Safety- Universitas Indonesia.

Tinggalkan Komentar di sini

Back to top button
Close
Close