Health

Pengukuran Faktor Psikologi berdasarkan Permenaker 5 tahun 2018

Faktor psikologi nampaknya belum menjadi persoalan di dunia K3 yang banyak dibahas oleh sebagian praktisi K3.  Padahal faktor psikologi ini memiliki dampak terhadap kesehatan pekerja.  Selama beberapa dekada ini, penelitian para ahli ergonomic mulai berkembang kearah faktor psikososial yang diduga berhubungan dengan keluhan Musculoskeletal (MSS). Beberapa penelitian mengaitkan bahwa ada hubungan yang signifikan antaran faktor psiksosial seperti stress kerja, kecepatan kerja, pekerjaan yang monoton, siklus kerja/istirahat, tuntutan tugas, dukungan sosial dari kolega dan manajemen dan ketidakpastian pekerjaan terhadap keluhan musculoskeletal (Behrani, 2017; Egwuonwu et al., 2016; Hossain et al., 2018; Kolahi et al., 2017; Kumar and Muralidhar, 2016; Lee et al., 2011; Ojukwu et al., 2017; Watanabe et al., 2018; Widanarko et al., 2014). 

Apa Itu Keluhan Musculoskeletal?

Keluhan musculoskeletal ini ditanda dengan gejala-gejala seperti nyeri, lemah otot, kelelahan, mati rasa atau kekakuan otot pada bagian-bagian tubuh.  Misalnya nyeri punggung, nyeri pada pergelangan tangan, nyeri pada bagian leher dll.

Lalu Bagaimana Cara Mengukur Faktor Psikologi Ini?

Pada artikel sebelumnya saya sudah mengulas mengenai faktor psikososial dan keluhan MSS.  Anda dapat melihat artikelnya pada link berikut ini  Faktor Psikososial dan Keluhan Musculoskeletal Pada Pekerja

Pengukuran dan penilaian faktor risiko psikososial ini ada berbagai macam.  Misalnya dengan menggunakan job content Questionnaire (JCQ), The Copenhagen psychosocial questionnaire (COPSOQ), Depression Anxiety Stress Scale (DASS), Hamilton Anxiety Rating Scale, Effort-reward Imbalance (ERI) dan masih banyak lagi. Di Indonesia sendiri, melalui Permenaker 05 tahun 2018 terdapat kuesioner yang dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana kondisi pekerjaan menjadi sumber stress seseorang.  Pada kuesioner faktor psikologi tersebut responden diminta untuk memilih seberapa sering kondisi pekerjaan tersebut menimbulkan stress.

Dalam kuesioner faktor psikologi tersebut terdapat 30 pertanyaan yang harus dijawab oleh responden sesuai dengan kondisi yang mereka alami.  Ada beberapa kategori yang dilihat dari kuesioner ini yaitu tingkat stress terkait dengan ketaksaan peran, konflik peran, beban berlebih kuantitatif, beban berlebih kualitatif, pengembangan karir dan tanggung jawab terhadap orang lain.

Form ini di isi dengan cara memilih skor antara 1-7 bila kondisi yang diuraikan (1) tidak pernah, (2) jarang sekali, (3) jarang, (4) kadang-kadang, (5) sering, (6) sering sekali dan (7) selalu menimbulkan stress.

Contoh Pertanyaan pada Kuesioner Faktor Psikologi berdasarkan Permenaker 5 tahun 2018
Contoh Pertanyaan pada Kuesioner Faktor Psikologi berdasarkan Permenaker 5 tahun 2018

Ada tiga tingkatan stress dalam kuesioner yaitu stress ringan, sedang dan berat. Masing-masing pertanyaan memiliki nilai 1-7.  Cara perhitungan kuesioner adalah sebagai berikut:

CategoryDeskripsiJumlah Pertanyaan No
Skor TPKetaksaan PeranPertanyaan No 1+7+13+19+25
Skor KPKonflik PeranPertanyaan No 2+8+14+20+26
Skor BBKuanBeban Berlebih KuantitatifPertanyaan No 3+9+15+21+27
Skor BBKualBeban Berlebih KualitatifPertanyaan No 4+10+16+22+28
Skor PKPengembangan KarirPertanyaan No 5+11+17+23+29
Skor TJOTanggung Jawab terhadap orang lainPertanyaan No 6+12+18+24+30
Mekanisme Penjumlahan Pertanyaan Faktor Psikologi sesuai Kategori

Adapun skor akhir (hasil penjumlahan dari pertanyaan diatas sesuai dengan kategorinya) dari kuesioner ini adalah sebagai berikut

Total SkorDeskripsi
Skor ≤ 9Derajat Stress RINGAN
Skor 10-24Derajat Stress SEDANG
Skor > 24Derajat Stress BERAT
Total Skor Pengukuran Faktor Psikologi

DOWNLOAD CONTOH FORM PENGKURAN FAKTOR PSIKOLOGI. 

Tentunya tempat Anda bekerja dapat memutuskan hingga tingkat mana tempat kerja harus melakukan tindakan. Apakah hanya fokus yang berat saja atau sedang dan berat itu kembali kepada keputusan manajemen.

Referensi

  • Behrani, P., 2017. Association between Psychosocial Factors at Work and Prevalence of Upper Musculoskeletal Systems Disorders : A Pilot Study. Glob. Bus. Manag. Res. An Int. J. 9, 181–188.
  • Egwuonwu, A.V., Mbaoma, C.P., Abdullahi, A., 2016. Prevalence and associated risk factors of work-related musculoskeletal disorders among road construction workers in a Nigerian community. Ergon. SA 28, 25. https://doi.org/10.4314/esa.v28i1.4
  • Hossain, M.D., Aftab, A., Al Imam, M.H., Mahmud, I., Chowdhury, I.A., Kabir, R.I., Sarker, M., 2018. Prevalence of work related musculoskeletal disorders (WMSDs) and ergonomic risk assessment among readymade garment workers of Bangladesh: A cross sectional study. PLoS One 13, 1–19. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0200122
  • Kolahi, S., Khabbazi, A., Malek Mahdavi, A., Ghasembaglou, Amid, Ghasembaglou, Arezoo, Aminisani, N., Somi, M.H., Heidari, F., 2017. Prevalence of musculoskeletal disorders in Azar cohort population in Northwest of Iran. Rheumatol. Int. 37, 495–502. https://doi.org/10.1007/s00296-017-3661-1
  • Kumar, S., Muralidhar, M., 2016. Analysis for prevalence of carpal tunnel syndrome in shocker manufacturing workers. Adv. Prod. Eng. Manag. 11, 126–140. https://doi.org/10.14743/apem2016.2.215
  • Lee, H., Ahn, H., Park, C.G., Kim, S.J., Moon, S.H., 2011. Psychosocial Factors and Work-related Musculoskeletal Disorders among Southeastern Asian Female Workers Living in Korea. Saf. Health Work 2, 183–193. https://doi.org/10.5491/SHAW.2011.2.2.183
  • Ojukwu, C.P., Anyanwu, G.E., Nwabueze, A.C., Anekwu, E.M., Chukwu, S.C., 2017. Prevalence and associated factors of work related musculoskeletal disorders among commercial milling machine operators in South-Eastern Nigerian markets. Work 58, 473–480. https://doi.org/10.3233/WOR-172647
  • Widanarko, B., Legg, S., Devereux, J., Stevenson, M., 2014. The combined effect of physical, psychosocial/organisational and/or environmental risk factors on the presence of work-related musculoskeletal symptoms and its consequences. Appl. Ergon. 45, 1610–1621. https://doi.org/10.1016/j.apergo.2014.05.018
Show More

Joko Priono, M.K.K.K.

HSE at Multinational Automotive Company. Bachelor Degree of Environmental Health and Master Degree of Occupational Health & Safety - Universitas Indonesia. Author of "70 Materi Safety Talks"

12 Comments

  1. Jika sudah dilakukan Uji Psikologi, contoh tindakan yang sebaiknya manajemen lakukan untuk orang dengan kategori stress berat apa ya pak ?

    1. Untung di masing item category nya bisa dilihat. Stressor penyebab stress tersebut apa. Ada yg terkait dengan hubungan dengan atas, rekan kerja dst. Agak sulit untuk memberikan rekomendasi langsung tanpa mengetahui akar permasalahannya. Bisa juga disarankan untuk visit ke Psikolog Pak. demikian

  2. Untuk ergonomic apakah metodenya sama pak? ATau harus ada survey tertentu ke area kerja? Dan apakah ada ketentuan terkait dengan besarnya area kerja/perusahaan dengan jumlah sampling ergomicnya.

    Terima kasih

    1. Kalau saya pribadi untuk jumlah karyawan disekitar 200an mungkin cukup dengan total sampling. Kalau sudah ribuan consider sampling saja. Untuk ergonomic metodenya ada banyak sekali tergantung apa yang mau diamati. Bisa kombinasi NBM, QEC, REBA, RULA, ROSA, OWAS, NIOSH Lifting dll.

  3. Responden nya apakah kita yang memilih pak atau harus seluruh karyawan, perlu sertifikat kah untuk dpt melakukan pengukuran ini terima kasih

    1. Untuk responden bisa dengan random sampling juga Bu. Untuk sertifikatnya setidaknya AHLI K3 Lingkungan Kerja karena ini bagian dari scope of work teman-teman ahli k3 lingkungan kerja [ada dibahas dalam permenaker itu juga]. Tapi jika ingin menggunakan psikolog atau pihak yg lebih berkompeten dan metode yang berbeda juga diperkenankan.

  4. responden nya apakah kita yang memilih pak atau harus seluruh karyawan, perlu sertifikat kah untuk dpt melakukan pengukuran ini
    terima kasih

  5. Izin bertanya pak, berarti untuk hasil perhitungannya sendiri itu tidak keseluruhan ya? jadi hanya per kategori sperti itu saja, atau memang stelah dihitung per kategori dapat dijumlahkan untuk keseluruhan? Terimakasih pak

  6. mantap pak, faktor ini sering masih jadi kendala di tempat kerja dan tidak mendapat perhatian pengusaha
    minta pasword kuesionernya pak. kuesioner terkunci

    1. Pak Ragil, untuk kuesioner tidak diperlukan password. Jadi tinggal di pilih saja skornya maka akan otomatis untuk kesimpulannya akan update. Apakah itu stress ringan, berat dst. Semoga membantu ya Pak. terima kasih sudah berkunjung

  7. Terima kasih banyak, atas informasi nya dan sangat bermanfaat sekali bagi saya sebagai peneliti dan akademisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button